FIXNEWS.ID, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menjelaskan penyebab sejumlah wilayah di ibu kota masih sempat tergenang banjir meskipun pemerintah provinsi telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menurut Pramono, banjir tak sepenuhnya bisa dihindari karena curah hujan yang turun pada Sabtu (17/1/2026) jauh melampaui prakiraan awal. Kondisi tersebut membuat OMC tidak dilakukan pada hari itu.
“Pada Sabtu dan Minggu awalnya kami tidak melakukan OMC karena berdasarkan prakiraan, curah hujan diperkirakan tidak setinggi itu. Namun, realisasinya justru sangat tinggi,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Ia mengungkapkan, intensitas hujan yang mengguyur Jakarta pada Sabtu mencapai 260 hingga 280 milimeter. Angka tersebut masuk kategori hujan ekstrem dan berkontribusi besar terhadap munculnya genangan di sejumlah titik.
Melihat perkembangan cuaca yang semakin memburuk, Pramono kemudian memerintahkan agar OMC segera dilakukan keesokan harinya. Ia bahkan meminta agar penyemaian awan dilakukan secara intensif.
“Begitu saya lihat hari Minggu sore langit Jakarta sudah sangat pekat, saya langsung minta OMC dilakukan. Kemarin sampai tiga kali penerbangan,” kata Pramono.
Ia menilai, tanpa OMC dampak banjir berpotensi meluas dan bertahan lebih lama. Namun, upaya tersebut dinilai cukup efektif dalam menahan eskalasi genangan.
“Kalau tidak dilakukan OMC, saya yakin wilayah terdampak akan jauh lebih banyak. Alhamdulillah, per pagi ini genangan sudah surut. Sempat ada 33 RW yang terdampak,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji juga menyampaikan bahwa hujan dengan durasi panjang pada hari ketiga pelaksanaan OMC menyebabkan genangan tidak sepenuhnya bisa dihindari.
“Intensitas dan durasi hujan yang tinggi membuat beberapa titik tetap tergenang meskipun OMC sudah berjalan,” kata Isnawa.
Ia menambahkan, BPBD DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI Angkatan Udara terus melakukan evaluasi harian untuk memastikan efektivitas OMC, termasuk penentuan waktu dan lokasi penyemaian awan yang paling tepat sesuai kondisi atmosfer terkini.
Pada Minggu (18/1/2026), OMC dilaksanakan melalui tiga sorti penerbangan pesawat CASA A-2105 yang berbasis di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi BPBD DKI Jakarta, BMKG, TNI AU, serta PT Rekayasa Atmosphere Indonesia.
Sorti pertama difokuskan di wilayah perairan Selat Sunda dan Ujung Kulon. Tujuannya untuk meluruhkan awan hujan sebelum memasuki daratan Jakarta, sehingga hujan lebih terkonsentrasi di wilayah perairan. Pada penerbangan ini, digunakan 800 kilogram Natrium Klorida (NaCl) pada ketinggian 11.000 kaki dengan target awan Cumulus.
Sorti kedua dilakukan di wilayah daratan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang. Penyemaian menggunakan 800 kilogram Kalsium Oksida (CaO) pada ketinggian sekitar 6.000 kaki untuk menekan intensitas hujan dari awan yang bergerak menuju Jakarta.
Sementara itu, sorti ketiga menyasar wilayah udara Kabupaten Tangerang. Penyemaian bertujuan memecah awan potensial pembentuk hujan dengan menggunakan 800 kilogram CaO pada ketinggian 5.000 hingga 6.000 kaki.
Adapun pelaksanaan OMC di Jakarta telah dimulai sejak 15 Januari 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 20 Januari 2026, menyesuaikan dengan perkembangan cuaca dan hasil evaluasi harian.

